Show Mobile Navigation

Test Footer 2

Popular Post

View My Stats

Senin, 23 April 2012

Edy Tansil Dan Kisah Pelariannya Dari Cipinang Dan Entah Kemana

Dhany Rahim - Senin, April 23, 2012

Mengenang kembali kisah pelarian Edy Tansil

Artikel ini saya peroleh dari:  http://www.tempo.co.id/ang/har/1996/960509_1.htm yang bertutur tentang proses pelariannya pada tahun 1996



Di tengah orang menunggu vonis buat Sri Bintang Pamungkas dan kelanjutan dugaan adanya kolusi dan korupsi di Mahkamah Agung, melejit berita si pembobol Bapindo membobol LP Cipinang, tempat dia menjalani 20 tahun hukumannya.
VONIS untuk Sri Bintang Pamungkas diduga bakal menjadi berita panas. Tapi, sehari sebelum vonis, Selasa 7 Mei 1996, lebih dahulu muncul kabar yang cukup bersaing: kaburnya Eddy Tansil, si pembobol Bapindo Rp 1,3 triliun dari Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cipinang, Jakarta Timur. Kabar ini cepat tersebar setelah Menteri Kehakiman Oetojo Oesman mengadakan jumpa pers, Selasa sore hari itu. Menteri mengaku mendapat kabar soal kaburnya terpidana 20 tahun itu pada hari itu pukul 10.00 pagi, dan siangnya, sekitar pukul 15.00, setelah menerima laporan dari berbagai pihak, ia membebastugaskan Kepala LP Cipinang, Mintardjo SH. Hari itu pula, Dirjen Imigrasi Pranowo memerintahkan semua pelabuhan dan bandara internasional di seluruh Indonesia untuk menahan Eddy Tansil kabur ke luar negeri. Bahkan Presiden Soeharto pada hari Rabu, 8 Mei, meminta seluruh rakyat membantu menangkap Eddy Tansil kembali.
Tapi masihkah upaya itu belum terlambat? Eddy sudah meninggalkan LP Cipinang Sabtu, 4 Mei 1996, sore hari. Besar kemungkinan ia sudah berada di luar Indonesia. Sebab, larinya si pembobol Bapindo ini rasanya sudah direncanakan. Bahkan menurut Menteri Kehakiman sendiri, sudah beberapa kali Eddy diduga mencoba kabur, dengan jalan izin ke luar dari LP, tapi keburu dijemput di rumahnya. Berikut perjalanan kabur Eddy Tansil, disusun dari berbagai sumber.
Jumat, 3 Mei 1996. Kepala Pengawas Keamanan LP Cipinang bernama DD ditanya oleh Eddy Tansil, bisakah ia keluar dari Cipinang hari Sabtu, 4 Mei 1996. Kabarnya Eddy memang sudah mendapat persetujuan dr. Ilham, dokter LP Cipinang, untuk berobat ke Rumah Sakit Jantung Harapan Kita pada hari Senin, 6 Mei 1996. Jarak rumah sakit itu dan LP Cipinang cukup jauh: sekitar 16 km. Tapi tentu bukan alasan jauh itu bila izin keluar hari Senin, sudah diberikan di hari Sabtu. Mungkin, dengan alasan sesak napas, hal yang konon sudah sering terjadi pada diri Eddy selama menjalani hukumannya, ia minta diizinkan keluar hari Sabtu itu, untuk bermalam di rumahnya.
Di LP Cipinang, Eddy Tansil menempati sebuah rumah mungil, agak terpisah dari sel-sel yang lain. Rumah mungil bercat putih itu berada tepat di depan rumah sakit penjara, dan pernah menjadi rumah Letnan Jendral (Purn) H.R. Dharsono. Di situ Eddy bersama tiga tahanan lainnya.
Rumah putih itu dan rumah sakit penjara dipisahkan oleh jalan aspal selebar 6 meter. Di sebelah kiri rumah Eddy Tansil ada kebun bayam dan kacang tanah. Lalu ada tembok pemisah setinggi 5 meter. Di sebelah kanan rumah Eddy Tansil ada gereja dan vihara. Sekitar 50 meter lagi ada sel tempat Xanana Gusmao, tokoh antiintegrasi Timor Timur, ditahan.
"Kediaman" Eddy Tansil itu hanya sebagian dari LP Cipinang. LP itu sendiri dipisahkan dengan dunia bebas di luar oleh sebuah pagar tembok tinggi mengelilinginya. Di dalam pagar, jalan aspal keliling penjara selebar 10 meter. Di luarnya, jalan raya dunia bebas.
Sabtu, 4 Mei 1996. Entah bagaimana, akhirnya pada hari Sabtu petang Eddy Tansil dibolehkan keluar dari LP Cipinang. Kepala jaga D menyediakan mobilnya, sebuah Suzuki Carry, di luar LP Cipinang, di salah satu sudut jalan raya di luar pagar tinggi LP Cipinang. Konon, waktunya sekitar pukul 18.30 petang, ketika Eddy, yang kini berambut keriting dan bercambang, nyelonong keluar dari penjara, masuk mobil Carry.
Ke mana Suzuki Carry meluncur, dan siapa saja di dalam mobil itu, tak jelas. Sebuah sumber mengatakan, mobil itu menuju ke jalan bypass, sekitar tiga km dari LP Cipinang, dan di situ Eddy turun, ganti mobil, kemudian menghilang. Tapi informasi ini masih sulit diketahui benar-tidaknya.
Minggu, 5 Mei 1996. Tak terbetik berita apa pun tentang Eddy Tansil, bahkan di dalam penjara. Mungkin, Eddy memang diberi izin sampai Senin, 6 Mei 1996, untuk berobat ke RS Jantung Harapan Kita, sehingga para petugas LP Cipinang tenang-tenang saja. Bisa jadi izin semacam ini pernah diberikan, dan mungkin saja bukan cuma kepada Eddy, dan ternyata semuanya beres seperti yang dijanjikan. Artinya sang narapidana yang minta izin ke luar itu akhirnya back to prison juga.
Senin, 6 Mei 1996. Barulah di Senin sore LP Cipinang ribut. Komandan Jaga hari itu mendapatkan tempat Eddy ditahan kosong. Komandan jaga ini baru menaruh syak di sore hari itu bisa jadi karena ia menduga Eddy memang benar berobat ke rumah sakit. Soalnya, menurut keterangan Menteri Kehakiman, laporan yang dibuat di hari Senin itu mengatakan bahwa Eddy Tansil ke luar LP Cipinang pukul 8.00 pagi, berobat ke RS Harapan Kita. Bisa dimengerti bila pada hari Minggu sampai Senin siang pihak LP Cipinang masih menduga Eddy bakal balik.
Tapi itulah, setelah sore hari si Eddy tak muncul juga, barulah sang Komandan Jaga sibuk mencarinya. Konon, Komandan Jaga langsung mengecek ke rumah Eddy Tansil di Jalan Pecenongan 35, Jakarta Pusat. Ternyata rumah yang disita oleh Bapindo itu kosong, hanya ada satpam Bapindo yang ditugasi berjaga di situ. Istri dan anak-anak Eddy yang biasanya menghuni rumah itu pun tak ada. Menurut harian KOMPAS Rabu 8 Mei 1996, yang mewawancarai satpam itu, sudah dua minggu istri dan anak Eddy tak terlihat pulang. Ia tak tahu di mana mereka berada. Yang aneh, beberapa hari sebelumnya, perabotan rumah itu, dari mebel sampai piring dan gelas, dijuali atau diberikan pada tetangga di sekitarnya.
Komandan Jaga langsung melaporkan raibnya Eddy kepada Kepala LP Cipipang, Mintardjo. Konon, langsung malam itu juga dilakukan pelacakan, misalnya ke tempat-tempat yang mungkin dikunjungi Eddy. Tak ada penjelasan, ke mana saja pelacakan dilakukan. Yang pasti, hidung si Eddy tak ditemukan juga. Kabarnya Mintardjo bergadang, melakukan kontrol semalaman.
Selasa, 7 Mei 1996. Barulah paginya Kepala LP Cipinang melaporkan raibnya Eddy Tansil kepada Dirjen Pemasyarakatan Departemen Kehakiman, dan kepada Kepala Kanwil Departeman Kehakiman DKI Jakarta. "Saya baru diberitahu sekitar pukul 10.00," tutur Menteri Kehakiman pada wartawan. Ketika itu Menteri tengah mengikuti rapat koordinasi dengan Menpolkam Susilo Sudarman.
Hari ini juga langsung Dirjen Imigrasi memerintahkan semua pelabuhan dan bandara internasional menahan Eddy Tansil bila ia terlihat muncul. Sore hari itu juga Menteri Oetojo Oesman meninjau LP Cipinang, setelah membebastugaskan Kepala LP Cipinang dan memecat Kepala Pengawas Keamanan DD, yang mobilnya dipakai oleh Eddy Tansil melaju dari Cipinang entah ke mana. Pengusutan pada mereka yang bertugas di LP Cipinang di hari diduga Eddy Tansil kabur terus dilakukan.
Melihat situasi LP Cipinang, Eddy tak mungkin keluar dari LP Cipinang tanpa sepengetahuan para penjaga. Selain tembok tinggi, ada beberapa lapis pos jaga dan pintu pagar besi, lalu kantor kepala LP, ruang kantor petugas penjara, jalan tikus untuk keluar, sebelum seseorang dari tempat Eddy Tansil ditahan bisa sampai ke pintu gerbang menuju keluar LP. Pintu gerbang ini pun dijaga oleh beberapa pos jaga. ''Jadi kalau tak ada pemberontakan, sangat sulit kabur dari Cipinang,'' kata seorang narapidana yang sudah ditahan 6 tahun di Cipinang.
Menurut sebuah sumber, di LP Cipinang Eddy Tansil memang diperlakukan agak istimewa. Itu karena ia menjadi pemuka atau istilah populer di LP, voorman. Misalnya, ruangan ataupun selnya dalam 24 jam tidak pernah dikunci, bisa membawa telepon genggam, dan akan mendapat pengurangan (potongan) tahanan atau remisi lebih besar daripada narapidana lainnya.
Untuk terpilih atau dianggap sebagai voorman konon tak begitu sulit, asal punya uang. "Apa pun bisa dilakukan asal ada uang; di sini everything is money,'' kata seorang narapidana. Ini, katanya, termasuk mendatangkan teman kencan semalam, jalan-jalan ke luar dari LP -- dengan ditemani petugas. Alasan bisa dibuat, berobat ke rumah sakit, atau alasan keluarga. "Kalau nggak ada uang tidak lancar.''
Dan uang konon bisa juga melicinkan urusan asimilasi, pembebasan bersyarat, atau cuti menjelang bebas (yang sebenarnya menjadi hak terpidana). ''Saya menghabiskan Rp 2 juta untuk petugas di LP sampai Kanwil Departemen Kehakiman agar bisa bebas bersyarat pada bulan-bulan depan ini,'' kata seorang narapidana yang tersangkut urusan obat-obatan terlarang.
Bila itu semua memang benar, bisa dibayangkan betapa mudahnya Eddy Tansil mendapatkan segala keistimewaan di tempat dia dipenjarakan. Bila sejumlah direktur Bapindo terpeleset oleh Eddy, bukan hal yang sulit bagi Eddy membujuk para petugas LP untuk memenuhi permintaannya. Kepala Pengawas Keamanan DD itu, berani mengizinkan Eddy ke luar dari LP Cipinang, bahkan menyediakan mobilnya, hanya karena diberi "uang rokok," yang besarnya memang tak diceritakan.
Banyak yang menduga kini Eddy berada di luar Indonesia. Ia tampaknya telah mempersiapkan benar "pembobolan" Cipinang ini. Ia panjangkan rambutnya, lalu dikeriting. Ia biarkan kumis dan jenggotnya tumbuh. Bukankah ini persiapan penyamaran yang masuk akal?
Dan dua pekan sebelum hari Eddy kabur, kabarnya istri dan anak-anaknya sudah tak pernah tampak di rumah yang biasanya mereka huni, di Jalan Pecenongan 35. Selain itu, barang-barang di rumah itu seminggu sebelumnya sudah dijuali atau dihadiahkan pada tetangga di sekitar rumah itu.
Dengan persiapan seperti itu, alangkah dungunya Eddy Tansil bila ia masih berada di wilayah Indonesia. Ia mestinya tak mau ambil risiko. Dan untuk itu, Eddy mestinya punya banyak akal, apalagi bila ada bantuan yang cukup kuat. Umpamanya, ini dugaan sebagian orang, ia dibantu Triad alias mafia Cina.
Riwayat Eddy sendiri adalah riwayat yang diwarnai ketidakjelasan. (Lihat Profil :Eddy Tansil: Kisah Raja Bajaj dan Bapak Bir) Di paspornya, tercantum nama Tan Eddy Tansil alias Tan Tju Fuan, lahir di Ujungpandang, 2 Februari 1934. Tapi di awal-awal perkara pembobolan Bapindo menjadi berita, awal tahun 1994, biodata Eddy yang diperoleh wartawan mengatakan ia bernama Tan Tjoe Hong, lahir 2 Februari 1953.
Bila benar Eddy sudah kabur ke luar negeri, taruhlah sudah berada di Singapura, tak mudah lagi kita menangkapnya. Indonesia dan Singapura sejauh ini belum punya perjanjian ekstradisi. Ini sudah terbukti dengan Hong Lie, tersangka dalam pembunuhan Nyo Ben Seng, yang konon lari ke Singapura beberapa lama lalu, dan belum juga tertangkap sampai hari ini. Ada juga Yusuf Randy, yang disinyalir kini berdiam di Jerman, tak juga kunjung bisa ditangkap lagi -- Indonesia dan Jerman juga tak memiliki perjanjian ekstradisi.
Apalagi bila diduga Eddy sudah menyusul anak-istrinya, yang kabarnya sudah berada di Shanghai, Cina.
Tapi apa, sih, yang menyebabkan Eddy Tansil kabur? Kebebasan, betapapun, memang sesuatu yang niscaya didambakan setiap manusia. Meski konon Eddy bisa mendapatkan apa saja yang dimauinya di dalam lembaga pemasyarakatan, ini tak sama rasanya bila dihirup di luar LP, di dunia bebas.
Jadi, alasan bahwa kekayaan Eddy sudah menipis hingga ia tak mungkin seterusnya membeli segala yang diinginkannya di dalam LP, rasanya kurang kuat.
Ada yang mencoba menduga, seseorang yang merasa terancam bila Eddy Tansil membeberkan hal sebenarnya dalam kasus pembobolan Bapindo, merekayasa pelarian ini. Bila ini betul, tentu si perekayasa adalah orang yang cukup punya akses ke banyak institusi, dan tentulah ia berkepentingan agar tak ada lagi kemungkinan Eddy membeberkan kasus itu. Artinya, si perekayasa sudah siap untuk melenyapkan Eddy selama-lamanya, bukan saja melenyapkannya dari LP Cipinang.
Tapi itu agak mengada-ada, soalnya, pengadilan kasus Bapindo telah digelar, dan Eddy punya kesempatan membeberkan apa saja. Bila ia punya kisah yang bisa meringankan hukumannya, atau bila ada yang harus memikul beban seberat dia dan itu tergantung pada pengakuannya, tentulah itu sudah dibeberkannya di pengadilan.
Mungkin menarik melihat kasus kaburnya Eddy Tansil dari sisi psikologis. Ini tampaknya merupakan perwujudan dari watak petualangannya. Bila ia ternyata sukses membobol Bapindo Rp 1,3 triliun, walau kemudian harus meringkuk dalam penjara, kenapa ia tak mencoba sukses membobol Cipinang? Bila gagal, paling risiko yang ia terima dipindahkan ke Nusakambangan, pulau di selatan Cilacap, Jawa Tengah, yang dijadikan tempat memenjarakan narapidana kelas berat sejak zaman Belanda.
Tapi kenapa sekarang ia lari, bukan sebelumnya, atau nanti? Belum lama lalu, bekas dirjen pemasyarakatan yang kini menjadi Sekjen Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, Baharuddin Lopa, meninjau LP Cipinang. dan ia kaget dengan "fasilitas" yang diberikan pada Eddy Tansil. Lopa lalu usul, agar si pembobol Bapindo itu dinusakambangkan.
Siapa tahu, mendengar itu, lalu Eddy nekat adu untung: berhasil syukur, tak berhasil akhirnya ia akan masuk Nusakambangan juga. Taruhannya memang berharga: kebebasan itu. Maka tiga berita besar bakal menghiasi media Indonesia untuk beberapa hari ini: vonis buat Sri Bintang Pamungkas, kelanjutan dugaan adanya kolusi dan korupsi di Mahkamah Agung, dan Eddy Tansil.

0 komentar:

Poskan Komentar