Drop Down MenusCSS Drop Down MenuPure CSS Dropdown Menu .breadcrumbs{ padding:5px 5px 5px 0; margin:0;font-size:95%; line-height:1.4em; border-bottom:4px double #cadaef} -->

AD (728x90)

1

Wednesday, July 18, 2012

Persepsi Otak Tentang Dunia Adalah Ilusi

Share it Please

Imam Rabbani secara terang-terangan menyatakan bahwa semua kesan yang tersaji untuk manusia hanya ilusi, dan bahwa kesan-kesan itu tidak asli di "luar".


Pokok bahasan yang telah kami jelaskan sejauh ini merupakan salah satu kebenaran terbesar yang pernah dikabarkan di sepanjang hidup anda. Dengan membuktikan bahwa seluruh dunia materi sebenarnya merupakan "makhluk bayang-bayang", pokok bahasan ini merupakan kunci untuk memahami keberadaan Allah dan ciptaan-Nya dan memahami bahwa Dialah satu-satunya keberadaan yang mutlak.

Orang yang memahami pokok bahasan ini menyadari bahwa dunia bukan jenis tempat [nyata] sangkaan kebanyakan orang. Dunia bukan tempat mutlak dengan keberadaan sejati seperti anggapan orang-orang yang berkeliaran tanpa tujuan di jalan-jalan, berkelahi di pub-pub, bermewah-mewah, memamerkan kekayaan mereka, atau yang mengabdikan hidup demi tujuan-tujuan dangkal. Dunia ini hanya sekumpulan persepsi, suatu ilusi. Semua orang yang kita sebut di atas hanya makhluk bayang-bayang yang melihat persepsi-persepsi ini dalam benak mereka; namun, mereka tidak menyadarinya.

Konsep ini sangat penting karena menghancurkan dan meruntuhkan filsafat materialisme yang menolak keberadaan Allah. Hal ini yang menyebabkan para materialis seperti Marx, Engels, dan Lenin merasa panik, murka, dan memperingatkan pengikut mereka "untuk tidak memikirkan" konsep ini kala mereka diberitahu hal itu. Orang-orang ini begitu lemah mentalnya sehingga mereka bahkan tidak bisa memahami bahwa penginderaan itu terbentuk di dalam otak. Mereka menganggap bahwa dunia yang mereka saksikan di otak mereka adalah "dunia luar" dan tidak bisa memahami bukti gamblang yang [menunjukkan] sebaliknya.

Ketidaksadaran ini merupakan hasil dari kurangnya kearifan yang diberikan oleh Allah kepada orang-orang yang tak beriman. Seperti firman Allah dalam Al-Qur'an, orang-orang kafir "

Anda bisa merambah melampaui hal ini dengan menggunakan kekuatan cermin pribadi anda. Untuk ini, anda harus berkonsentrasi, memusatkan perhatian anda, dan merenung pada waktu melihat obyek-obyek di sekitar anda dan merasakan sentuhan mereka. Jika anda berpikir dengan kepala dingin, anda bisa merasakan bahwa makhluk pintar yang melihat, mendengar, menyentuh, berpikir, dan membaca buku di saat ini hanya seorang roh dan menyaksikan cerapan yang disebut "materi" di selembar layar. Orang yang memahami ini akan telah beranjak dari ranah dunia materi yang menipu sebagian besar manusia, dan memasuki ranah keberadaan hakiki.

Kenyataan ini dipahami oleh sejumlah teis atau filsuf sepanjang sejarah. Intelektual Islam seperti Imam Rabbani, Muhyiddin Ibn al-'Arabi, dan Maulana Jami menyadari hal ini dari ayat-ayat al-Qur'an dan dengan menggunakan akal mereka. Sebagian filsuf Barat seperti George Berkeley memahami realitas yang sama melalui akal. Imam Rabbani menulis dalam Maktubat (Surat-Surat)-nya bahwa seluruh alam materi itu "bayangan dan sangkaan (cerapan)" dan bahwa satu-satunya keberadaan mutlak itu ialah Allah:

Allah ... Substansi makhluk-makhluk yang Ia ciptakan ini tidak lain kecuali ketiadaan ... Ia ciptakan semuanya dalam cakupan indera dan ilusi ... Keberadaan alam semesta ini adalah di cakupan indera dan ilusi, dan ini bukan materi ... Pada hakikatnya, tiada yang berada di luar kecuali Yang Agung. (Yaitu Allah).40

Imam Rabbani secara terang-terangan menyatakan bahwa semua kesan yang tersaji untuk manusia hanya ilusi, dan bahwa kesan-kesan itu tidak asli di "luar".

Siklus khayalan ini tergambar dalam imajinasi. Terlihat jelas bahwa ini tergambar, namun dengan mata benak. Di luar, tampak seakan-akan ini terlihat dengan mata kepala. Akan tetapi, kejadiannya bukan demikian. Tidak ada penandaan atau pun jejak di luar. Tiada keadaan yang akan terlihat. Bahkan wajah seseorang yang terpantul di sebidang cermin memang seperti itu. Keadaannya di luar tidak stabil. Tiada keraguan, baik kesan maupun kestabilannya ada dalam IMAJINASI. Allah lebih mengetahui.
Maulana Jami menyatakan fakta serupa, yang ia temukan dengan mengikuti ayat-ayat Al-Qur'an dan dengan menggunakan kecerdasannya: "Apa pun yang ada di alam semesta adalah inderawi dan ilusi. Mereka itu seperti pantulan di cermin atau bayang-bayang."

Namun demikiam, jumlah orang yang memahami fakta ini sepanjang sejarah selalu terbatas. Ulama besar seperti Imam Rabbani telah menulis bahwa mungkin tidak bijaksana menuturkan kenyataan ini kepada masyarakat luas karena kebanyakan orang tidak mampu memahaminya.

Di abad di masa hidup kita, telah tersusun fakta empiris melalui struktur bukti yang dikemukakan oleh ilmu pengetahuan. Kenyataan bahwa alam semesta merupakan makhluk bayang-bayang diuraikan dengan cara yang demikian jelas, konkret, dan terbuka untuk pertama kalinya dalam sejarah.

Karena alasan ini, abad ke-21 akan menjadi titik balik bersejarah ketika manusia pada umumnya akan memahami realitas ilahi dan berbondong-bondong menuju Allah, satu-satunya keberadaan yang mutlak. Paham materialis abad ke-19 akan tersingkir ke keranjang-sampah sejarah. Keberadaan Allah dan ciptaan-Nya akan dimengerti, ketiadaan ruang dan waktu akan dipahami, manusia akan bebas dari selubung, kebohongan, dan takhyul yang menyesatkan mereka berabad-abad.

Mustahil kejadian yang tak terhindarkan ini terusik oleh makhluk bayang-bayang apa pun.






Sumber: Mengenal Allah Lewat Akal

Written by

We are Creative Blogger Theme Wavers which provides user friendly, effective and easy to use themes. Each support has free and providing HD support screen casting.

0 comments:

Post a Comment

© 2013 RahimNetwork. All rights resevered. Designed by Templateism